Harga Minyak Mentah Mendekati US$100 Per barrel, apa efeknya bagi Indonesia ??

Dengan harga Minyak mentah di pasaran dunia sudah makin mendekati $100 per barrel, lalu apakah Indonesia, negara yang masih tergabung dalam kelompok negara pengekspor minyak ikut menimati kenaikan harga minyak tersebut?

Kalau memang ikut menikmati, kira-kira uang nya kemana ya? Atau kalau memang nggak menikmati, terus siapa dong yang menikmati?

Atau lebih tepatnya lagi: apakah pengaruhnya kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap kocek pemerintah Indonesia? Dan, sebenarnya, kemana distribusi minyak mintah yang kita produksi dari bumi pertiwi ini?

Menurut Lemigas, dari data tahun 2005, produksi minyak mentah Indonesia adalah 1,113,400 barrel per hari.

Dari data tersebut, seperti yang kita sudah duga, Caltex Pacific Indonesia, yang saat ini sudah berganti nama menjadi PT. Chevron Pacific Indonesia, menghasilkan minyak mentah tersbesar, yaitu 476 ribu barrel per hari.

Baru kemudian disusul oleh Pertamina (135 ribu), Conocophilips (71), CNOOC (64), Total Indonesie (60), medco EP (55), Petrochina (52), Unocal (35), Vico (24) dan BP (19 ribu) barrel per hari.

Dari total 1,113,400 barrel tersebut, tentunya setelah dipotong untuk biaya cost recovery, maka jatahanya KPS (Kontraktor Production Sharing) adalah 504,900 barrel, atau kurang lebih 45.35%.

Sedangkan bagian pemerintah (termasuk produksi Pertamina) adalah 608,500 barrel, atau sekitar 54.65%.

Nah, dari jumlah tersebut, kita bisa tahu akan dikemanakan minyak mentah tersebut.

Sebagaimana layaknya perusahaan yang pasti nyari untung, hampir seluruh hasil jatah KPS dijual atau di ekspor, yaitu sebanyak 402,100 barrel.

Sementara itu, yang 102,800 ribu barrel dikategorikan sebagai pertukaran atau pembelian oleh pemerintah yang kemudian akan diteruskan ke kilang pengolahan.

Sementara itu, bagian atau jatahnya Pemerintah RI, yaitu 608,500 barrel tadi, kan tidak bisa semuanya dijual ke luar negeri dalam rangka meraup dollar.

Soalnya, pemerintah kan mesti menyediakan Bahan Bakar bagi warganya, yang harga jualnya tentu saja tidak bisa disamakan dengan harga jual ekspor.

Tapi, Pemerintah nggak mau nggak menikmati untung begitu saja, tapi ikut juga menjual sedikit ke luar negeri, yaitu dalam bentuk pertukaran sebanyak 29,900 barrel. Sebanyak 35,100 barrel di ekspor ke luar negeri. Tapi, ada juga jalur penjualan ke luar negeri melalui BP Migas sebanyak 34,100 barrel. Kalau yang ini saya kurang tahu kenapa BP Migas ikutan jual minyak.

Dari data yang ada, bahwa jumlah konsumsi Bahan Bakar Minyak dalam negeri Indonesia tahun 2004 adalah 1,182,900 barrel perhari.

Padahal, minyak mentah yang kita punya dan siap dikirim ke Kilang Pengolahan hanyalah: 608,500 -29,900 – 35,100 – 34,1000 = 509,400 barrel. Masih ditambah memang dengan exchange dengan KPS sebesar 102,800 barrel untuk melengkapi jumlahnya sebesar 612,200 barrel.

Masih kurang 383,500 barrels. Dicari dimana?

Sebanyak 248,800 barrels diimpor dari Saudi Aramco, Petronas PPT, dan Petral. Sedangkan dari Spot tender didapat 119,900 barrels. Dengan demikian kita sudah dapat 368,700 barrels.

Sisanya, sebesar 14,800 barrels diimport dalam bentuk HOMC atau High Octane Mogas (Motor Gasoline) Component.

Jadilah total yang sudah bisa dikirim ke Kilang Pengolahan adalah 612,200 + 248,800 + 119,900 + 14,800 = 995,700 barrels.

Dari jumlah 995,700 barrels yang dikirim ke Kilang Mingka Pengolahan kita, menghasilkan:

1. LPG : 30,200
2. Premium: 194,200
3. Minyak Tanah: 164,700
4. Solar: 266,800
5. Diesel: 17,800
6. Minyak Bakar: 89,000

Sehingga total yang dihasilkan adalah: 732,500 barrel, diluar LPG.

Sedangkan kebutuhan BBM kita per harinya adalah 1,182,900 barrel, sehingga sisanya dari 1,182,900 kebutuhan – 732,500 produksi = 450,400 barrels mesti di impor.

Jumlah impor BBM tadi masing-masing perinciannya adalah:
• Premium: 67,300 barrel
• Minyak Tanah: 163,300 barrel
• Solar: 190,800 barrel
• Minyak Bakar: 29,000 barrels.

Berikut ini diagram alirannya agar lebih jelas menunjukan aliran minyak mentah ketika sudah di produksi sampai menjadi BBM, disadur dari Lemigas

Dengan demikian bisa kita lihat bahwa kenaikan harga minyak mentah dipasaran dunia tidak begitu menambah kocek pemerintah karena kita masih memerlukan impor baik dalam bentuk minyak mentah maupun dalam bentuk BBM yang sudah jadi.

Memang, bisa saja pemerintah mendapatkan tambahan pendapatan dari pajak hasil penjualan yang dilakukan oleh KPS tadi, tapi tentu saja hasilnya akan jauh lebih besar jika kita semua yang punya hasil minyak tadi.

Data diatas memang adalah data tahun 2005 yang didapat dari edisi June/July 2005 The Indonesian Petro Energy No.2, yng dikutip oleh Lemigas.

Tapi, tahun 2006 dan 2007, produksi minyak mentah kita terus turun secara alamiah, sedangkan kebutuhan BBM malah naik terus, jadi bisa saja data tahun 2006 dan 2007 ini jauh lebih tinggi dari data tahun 2005, yang pada gilirannya, seiiring dengan meningkat tajamnya harga minyak mentah di pasaran dunia, makin mempersulit neraca kas Pemerintah Indonesia dan Pertamina.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Pemerintah sudah menyadari bahwa ketergantungan akan minyak mentah adalah mesti dikurangi. Sehingga diproyeksikanlah pencarian dan penggunaan Bahan Bakar Alternatif.

Dari sisi kita, paling tidak, mengurangi dan menghemat pemakaian BBM semampu kita. Sekecil apapun tindakan kita, jika dilakukan bersama-sama, hasilnya pastilah akan sangat membantu Pemerintah kita dan tentu saja kita semua

Krisis Minyak Dunia Dan Indonesia

Saat ini dunia sangat bergantung kepada minyak bumi sebagai sumber energi. Namun, minyak bumi ini adalah sumber energi yang tak dapat diperbaharui. Sedikit yang membantah bahwa minyak bumi suatu saat akan habis dan manusia akan terpaksa beralih ke jenis energi lainnya. Yang menjadi masalah kini bukanlah apakah minyak akan habis, tetapi kapan minyak akan habis. Ini adalah yang kita sebut sebagai krisis minyak dunia.

Memperkirakan Hubbert Peak

Cara yang paling banyak digunakan untuk memperkirakan mulainya krisis minyak adalah Hubbert Peak yang diperkenalkan oleh ahli geofisika M. King Hubbert. Hubbert Peak adalah sebuah model untuk mengestimasi puncak dari produksi minyak dunia.

Pada tahun 1956, Hubbert memprediksikan bahwa produksi minyak di Amerika Serikat akan mencapai puncaknya pada tahun 1970. Dan ternyata puncak tersebut terjadi pada tahun 1971. Menurut Hubbard, cadangan minyak Amerika Serikat akan habis pada akhir abad ke-21.

Pada tahun 1971, Hubbert kembali mencoba untuk memprediksi puncak produksi minyak, kali ini untuk produksi minyak dunia. Menurut beliau, puncak produksi minyak dunia akan terjadi pada tahun 1995-2000. Prediksi ini meleset karena sampai saat ini produksi minyak dunia masih menunjukkan peningkatan. Tetapi ada kemungkinan ini disebabkan oleh faktor-faktor lain yang dapat menunda peak ini, yaitu: krisis energe 1997, perang teluk, dan resesi pada tahun 1980 dan 1990-an.

Salah satu organisasi yang paling konservatif dalam memprediksi Hubbert Peak adalah the Association for the Study of Peak Oil and Gas (ASPO). Organisasi ini pernah memprediksikan bahwa Hubbert Peak akan terjadi pada tahun 2000, 2002, 2004 dan kini mereka memperkirakan bahwa Hubbert Peak akan terjadi pada tahun 2007. Walaupun akibatnya kini banyak yang tidak mempercayai organisasi ini, perubahan tersebut terjadi karena peningkatan produksi di Rusia serta peningkatan produksi dari sumber-sumber non konvensional seperti pasir minyak.

Freddie Hutter dari Trendlines.ca –salah satu kritikus dari ASPO– berpendapat bahwa Hubbert Peak akan terjadi pada tahun 2010. Freddie Hutter juga melakukan kompilasi beberapa pendapat mengenai kapan Hubbert Peak ini akan terjadi.

Berikut adalah grafik buatan Freddie Hutter yang merupakan kompilasi dari beberapa pendapat tentang Hubbert Peak dari Exxonmobil, OPEC, EIA, IEA, Jean Laherrère, Colin Campbell (ASPO), Total, BP dan Rembrandt Koppelaar


Dapat dilihat bahwa Hubbert Peak diprediksikan akan terjadi paling cepat tahun 2007 (prediksi Colin Campbell dari ASPO) dan paling lama sekitar tahun 2050 (prediksi Exxonmobil, OPEC dan EIA). Namun perlu diperhatikan bahwa pihak-pihak yang memprediksikan bahwa peak masih lama terjadi adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksploitasi minyak bumi.

Puncak Produksi di Indonesia

Di atas adalah perkiraan peak produksi minyak untuk seluruh dunia. Lalu bagaimana dengan peak di Indonesia? Menurut publikasi BP yang berjudul “Statistical Review of World Energy 2005″, produksi minyak tertinggi Indonesia terjadi pada tahun 1977, dengan rata-rata sebesar 1685 ribu barrel/hari. Setelah itu, produksi minyak Indonesia tidak pernah lagi mencapai angka tersebut. Pada tahun 2004, produksi minyak Indonesia hanyalah sebesar 1126 ribu barrel/hari. Angka ini sudah berada di bawah konsumsi BBM Indonesia yang jumlahnya sebesar 1150 ribu barrel/hari.

Berikut adalah grafik produksi dan konsumsi BBM di Indonesia dari tahun 1965 sampai 2004 berdasarkan data dari BP:

Menurut BP, cadangan minyak Indonesia yang dapat dibuktikan keberadaannya hanyalah sekitar 4.7 miliar barrel.

Pada tahun 2004, Kelompok Kerja Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam (Pokja PA-PSDA) dan Koalisi Ornop Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan mengirim sebuah memorandum kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Memorandum ini berjudul “Usulan Kebijakan Energi Untuk Keamanan Pasokan Energi Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”. Memorandum ini mengatakan bahwa minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu 15-20 tahun, gas alam dalam waktu 35-40 tahun dan batubara dalam waktu 60-75 tahun.

Sedangkan Presiden SBY sendiri mengatakan bahwa minyak Indonesia akan habis dalam 15 tahun, gas alam dalam 60 tahun dan batubara dalam 150 tahun.

Kesimpulan

Penggunaan sumber daya alam hidrokarbon, terutama bahan bakar minyak perlu direduksi untuk menghindari semakin parahnya krisis energi di masa yang akan datang. Kenaikan harga BBM tanggal 1 Oktober besok menyebabkan banyak sekali reaksi dari masyarakat. Namun sebagian besar reaksi ini memperhitungkan kenaikan harga BBM semata-mata dari sisi makroekonomi saja. Seakan-akan diasumsikan bahwa sumber daya minyak adalah sumber daya alam yang tidak akan pernah habis.

Perlu disadari oleh kita semua bahwa suatu saat BBM akan habis. Kalaupun tidak dirasakan oleh kita sendiri, anak cucu kita yang akan merasakannya. Dengan demikian, semua argumen tentang kenaikan harga BBM tanpa memperhitungkan faktor kelangkaan energi tidaklah lengkap dan perlu mendapat revisi yang menyeluruh

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: